Rabu, 20 Mei 2009

Sawo Jumbo Vietnam


Anda pasti akan terperangah jika melihat tampilan sawo yang satu ini karena ukuran buahnya yang tidak lazim. Berbeda dengan sawo lokal yang ukuran buahnya kecil dengan berat antara 75 gram hingga 150 gram per buah, maka sawo jumbo asal Vietnam ini cukup menakjubkan karena buahnya berukuran besar dengan berat antara 500 gram hingga yang terbesar yang pernah ditemukan seberat 700 gram. Selain ukuran yang berbeda dengan sawo lokal, periode pemasakan buah juga cukup lama, dari bunga mekar hingga buah masak fisiologis, dibutuhkan waktu setidaknya 5 hingga 7 bulan. Secara umum, habitus tanaman sawo jumbo Vietnam tidak berbeda dengan tanaman sawo lokal, semuanya nyaris sama, baik kayu batang, daun, maupun bunganya, namun daunnya sangat lebar, lebih lebar dibanding daun sawo pada umumnya, dan cukup kontras jika lebar daun sawo jumbo Vietnam ini dibandingkan dengan daun sawo jumbo CM19. Beberapa ciri tanaman sawo jumbo Vietnam ini adalah : daun sangat lebar, bunga muncul di ujung ranting dengan jumlah 8 hingga 12 kuntum, bakal buah yang terbentuk pasca persarian bunga berjumlah 1 hingga 3 bakal buah saja, dan yang membesar hingga siap konsumsi berkisar antara 1 hingga 2 buah saja.


sawo jumbo vietnam saat masih muda

Senin, 18 Mei 2009

Perbanyakan Bibit Tanaman Dengan Cara Mencangkok







Seperti topik yang telah disinggung sebelumnya, memperbanyak bibit tanaman buah unggul dengan cara mencangkok adalah cara yang paling lazim dilakukan, dengan pertimbangan bahwa bibit asal cangkokan akan membawa sifat genetis yang sama persis dengan sifat genetis tanaman induknya. Selain itu, tenggat waktu yang dibutuhkan tanaman untuk memasuki fase generatif (periode berbuah) akan lebih singkat dibandingkan dengan tanaman yang bibitnya berasal dari perbanyakan secara vegetatif lainnya (okulasi mata tempel, sambung susuan, sambung sisip, sambung pucuk, dan sebagainya). Pertumbuhan tanaman juga akan lebih cepat dengan bentuk tajuk yang kompak jika rajin dipangkas.

Beberapa alasan yang mendasari tanaman buah diperbanyak dengan cara cangkok adalah :
  1. Keterbatasan ketersediaan batang bawah (rootstock), khususnya bagi kalangan penghobi biasa, bukan penangkar bibit tanaman buah-buahan
  2. Dibutuhkan ketrampilan teknis yang lebih memadai bagi seseorang untuk membuat bibit dengan cara okulasi (tempel mata tunas), sambung pucuk (cleft grafting), sambung sisip (tempel ranting muda), maupun sambung susuan
  3. Periode tunggu dari saat bibit cangkok ditanam hingga tanaman berbunga dan berbuah relatif lebih singkat dibanding jika tanaman buah berasal dari bibit vegetatif lainnya (okulasi, sambung sisip, sambung pucuk, sambung susuan, dan sebagainya)
  4. Dapat dilakukan pada saat kapanpun (musim hujan maupun musim kemarau) dengan menggunakan bahan cangkok yang bervariasi (tanah subur, kompos, sphagnum moss, coco fiber, lumut, dan sebagainya)
  5. Waktu pembuatan hingga bibit cangkok siap tanam yang relatif lebih singkat

Senin, 04 Mei 2009

Mangga Namdokmai #4 asal Thailand




Satu lagi mangga introduksi dari Thailand yang cukup populer bagi kalangan hobiis di sini adalah mangga Namdokmai #4 yang merupakan perbaikan dari mangga Okyong yang lebih duluan masuk ke Indonesia. Perbaikan itu terutama terlihat dari kemampuan berbuah mangga Namdokmai yang lebih awal, jumlah buah per tandan yang lebih banyak, dan ukuran buah yang lebih besar dari pada mangga Okyong. Ciri khas pembeda mangga Namdokmai dengan mangga Okyong adalah flush atau daun muda (Jawa : pupus) berwarna merah bercampur kecokelatan, sementara pada mangga Okyong, daun mudanya berwarna hijau muda keputihan. Mangga ini cukup genjah dan mampu berbuah pada umur 2,5 tahun dari saat tanam (bibit asal okulasi mata tempel). Keunggulan lain dari mangga ini adalah rasanya yang sangat manis, berdaging lembut dengan sedikit serat. Disarankan untuk memakan buahnya dalam kondisi kematangan 80%, karena jika buah kelewat matang, maka daging buahnya menjadi agak berair, namun hal ini justru menjadi keunggulan lain dari mangga Namdokmai karena daging buah yang juicy, akan semakin menambah kesegaran buahnya

Minggu, 03 Mei 2009

Mangga Chokanan asal Thailand



Mangga adalah salah satu buah favorit, baik untuk masyarakat di Indonesia, maupun masyarakat di hampir seluruh belahan dunia lainnya. Selain dimakan sebagai buah segar, mangga juga dimanfaatkan sebagai bahan campuran untuk makanan sehari-hari (Sulawesi), dibuat manisan, diambil sari buahnya (mangga juicy), maupun untuk fungsi pemanfaatan lainnya.
Mangga Chokanan adalah salah satu kultivar asli Thailand yang sekarang banyak dibudidayakan, baik sebagai tanaman buah dalam pot sekaligus sebagai hiasan halaman rumah, maupun dibudidayakan secara komersial dalam skala perkebunan yang luas.
Mangga ini sangat genjah dengan kemampuan berbuah sangat awal, lebih singkat dari mangga kultivar Thailand lainnya. Dalam pot berdiameter 35 cm pun, mangga ini bisa berbunga dan berbuah dalam waktu relatif singkat, kurang dari setahun setelah tanam, dari bibit asal okulasi mata tempel, dengan potensi jumlah buah yang tinggi di setiap tandan. Selain itu, rasa manisnya bercampur sedikit asam, sehingga perpaduan rasa manis dan sedikit asam, semakin menambah kesegaran rasa buah mangga ini. Di luar itu, tekstur daging buahnya juga lembut dengan kandungan serat yang rendah sehingga nyaman untuk dinikmati

Media Tanam untuk Tanaman Buah Dalam Pot (Tabulampot)






Media tanam adalah salah satu faktor penting yang menentukan keberhasilan penanaman tanaman buah dalam pot, karena umumnya media tanam tabulampot jumlahnya dibatasi oleh volume pot, sehingga komposisi yang tepat akan membuat perakaran tanaman dapat berkembang dengan baik untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
Apapun jenis tanah mineral yang ada di sekitar kita, bisa digunakan sebagai bagian dari media tanam, dengan catatan bahwa tanah yang akan digunakan adalah tanah murni, bukan tanah campuran bekas bongkaran bangunan, bukan tanah yang tercemar limbah beracun, bukan tanah dengan kadar garam tinggi, dan sebagainya. Idealnya, tanah disaring dengan menggunakan ayakan berdiameter 0,5 cm (strimin) untuk mendapatkan butiran tanah yang homogen dan bebas dari campuran batu, kerikil, maupun partikel bukan tanah lainnya.

Anjuran untuk pembuatan media tanam untuk tabulampot adalah sebagai berikut :

1. Jika tanah yang digunakan tergolong tanah berat dengan kandungan fraksi lempung yang tinggi sehingga bersifat sangat liat, maka anjuran komposisi media tanamnya adalah 1 bagian tanah dicampur dengan 1 bagian pupuk kandang (sapi/kambing/kerbau/kelinci) dan 3 bagian sekam segar atau sekam bakar atau kombinasi sekam segar dan sekam bakar. Jangan sekali-kali menggunakan abu sekam untuk campuran media tanam karena dalam kondisi jenuh air, kombinasi tanah berat dengan abu sekam akan menghasilkan efek melumpur (seperti lumpur) yang justru mengganggu drainase (pengatusan) air dan aerasi (pengudaraan) dalam media tanam. tanah jenis ini tergolong tanah yang miskin pori, baik pori makro maupun pori mikro, dan karena kandungan fraksi lempungnya yang tinggi, maka kemampuan ikat airnya sangat tinggi, dengan kata lain, tanah mampu menyimpan air dengan sangat baik dengan drainase (pengatusan) yang buruk. Dalam kondisi seperti ini, pertumbuhan akar akan terhambat akibat adanya penggenangan air dalam tanah Penambahan pupuk organik bertujuan untuk memperbaiki struktur tanah agar tanah menjadi lebih remah (crumb) dan akar bisa tumbuh dengan leluasa, sementara penambahan sekam padi bertujuan untuk memperbaiki porositas tanah, menambah jumlah pori makro untuk meneruskan kelebihan air dalam tanah (fungsi pengatusan air) serta menambah jumlah pori mikro untuk menyimpan oksigen (fungsi aerasi atau fungsi pernafasan bagi akar) 

2. Tanah-tanah sedang dengan komposisi fraksi lempung, debu, dan pasir yang seimbang, umumnya relatif ideal dijadikan media tanam tabulampot, namun tetap perlu dimodifikasi agar menjadi lebih ideal untuk digunakan sebagai media tanam dalam jumlah yang terbatas dalam pot agar ideal untuk pertumbuhan akar di bagian bawah serta manifestasi pertumbuhan tanaman yang sehat di bagian atas. Campurkan merata 1 bagian tanah sedang , dengan 0,5 hingga 1 bagian pupuk kandang, dan 1 atau 2 bagian sekam, disesuaikan dengan kebutuhan tanaman yang berbeda antar tanaman yang satu dengan tanaman lainnya. 

3. Tanah dengan fraksi pasir yang dominan, digolongkan sebagai tanah ringan karena mudah diolah, baik dalam keadaan basah apalagi dalam keadaan kering. Tanah jenis ini umumnya terdapat di daerah di sekitar gunung berapi yang masih aktif, biasanya miskin akan kandungan bahan organik, strukturnya sangat remah cenderung rapuh, komposisi pori makro yang sangat tinggi dibanding jumlah pori mikronya, sangat mudah meneruskan kelebihan air, dan miskin kandungan unsur hara nitrogen. Karenanya, jika dibuat sebagai media tanam tabulampot, tanah jenis ini harus diperbaiki sifat-sifat fisikanya, sifat kimianya dan sifat biologinya dengan mencampurkan 1 bagian tanah dengan 2 bagian pupuk kandang, dan 1 bagian sekam, atau tergantung kebutuhan dilihat dari sumber tanahnya, apakah tanah diperoleh dari daerah yang tergolong subur atau kurang subur. Penambahan bahan organik seperti pupuk kandang sekaligus akan memperbaiki sifat fisika tanah (memperbaiki struktur tanah menjadi lebih remah), sifat kimia (menambah kandungan unsur hara organik makro dan mikro) serta memperbaiki sifat biologinya (meningkatkan jumlah dan jenis mikrobia tanah).




Ciri utama media tanam yang baik adalah tidak gampang memadat meski telah digunakan dalam kurun waktu cukup lama, dan media seperti ini hanya dapat diperoleh dengan cara memodifikasi media tanam dengan bahan-bahan yang tersedia di sekitar kita dan mudah untuk mendapatkannya. Jika ragu dalam membuat media tanam, khususnya kualitas fisiknya, lakukan tips berikut : ambil segenggam media tanam yang telah dibuat dan dalam keadaan lembab (sedikit basah), lalu kepal dengan kuat dalam genggaman tangan. Jika saat genggaman tangan dibuka dan gumpalan media tanam pecah (Jawa : ambyar), itu berarti komposisi media tanam telah ideal secara fisik. Namun jika saat genggaman tangan dibuka dan media tanam berada dalam kondisi menggumpal, berarti diperlukan penambahan sekam segar atau sekam basah dalam jumlah secukupnya agar komposisi ideal media tanam dapat terbentuk sebagaimana telah dicontohkan sebelumnya.   

Penggunaan media tanam tabulampot dengan komposisi yang ideal akan sangat menunjang pertumbuhan akar menjadi lebih optimal, akar dapat tumbuh dengan leluasa karena mendapatkan suplai oksigen dan air dalam jumlah memadai, dan dalam kondisi pertumbuhan optimal tersebut, akar dapat menjalankan fungsinya untuk menyerap air dan hara-hara yang diperlukan dari dalam media tanam untuk disinergikan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman.