Minggu, 06 November 2011

Mencegah Kerontokan Bunga dan Bakal Buah




Periode berbunga dan berbuah suatu tanaman adalah saat yang paling dinantikan oleh penanam karena harapan terbesar penanam adalah memanen buah dari tanaman yang sudah dirawat dengan baik dan dalam kurun waktu yang cukup panjang. Namun, harapan ini terkadang tidak menjadi kenyataan karena bunga rontok dan berguguran sebelum berkembang sempurna, berubah menjadi bakal buah. Kalaupun berubah, bakal buah yang terbentuk hanya berjumlah sangat sedikit,




Secara umum, kerontokan bakal buah pasca persarian bunga, disebabkan karena beberapa faktor :

Kerontokan karena faktor fisiologis kimiawi :
Kandungan nutrisi, khususnya hara fosfat (P) dan kalium (potassium = K) yang terbatas dalam tanah atau media tanam tabulampot menjadi faktor penyebab utama kerontokan bunga dan bakal buah atau buah yang sedang mengalami proses pembesaran. Jika kandungan kalium dalam tanah sangat terbatas, maka kerontokan buah akan menjadi lebih banyak. Kerontokan buah ini akan semakin parah jika pasokan air dari dalam tanah ke tanaman juga terbatas. Jika kerontokan buah disebabkan oleh faktor malnutrisi kalium, maka pemberian pupuk kalium, baik dalam bentuk tunggal (Kalium Chloride, KCl) maupun dalam bentuk majemuk (Kalium nitrate, KNO3) dapat menjadi solusi untuk mengatasi kerontokan buah. Pemberian pupuk yang mengandung kalium harus dilakukan seawal mungkin, sebelum pembungaan berlangsung dan pasca persarian selesai sehingga pemanfaatan unsur hara oleh tanaman dapat terjadi secara optimal. Pada beberapa kasus, pemberian pupuk fosfat yang dikombinasikan dengan kalium (pupuk MKP, mono kalium phosphate, KH2PO4 misalnya) sangat membantu tanaman untuk berbunga dan berbuah dengan normal karena pasokan kalium diberikan dalam jumlah lebih sedikit, namun diberikan bersamaan dengan pemberian fosfat yang sangat dibituhkan tanaman saat memasuki periode vegetatif untuk berbunga dan berbuah. Pasokan air sebagai salah satu komponen utama dalam proses fotosintesis juga akan sangat membantu mencegah timbulnya masalah kerontokan bakal buah. Pasokan air yang cukup jangan diartikan bahwa tanaman harus mendapatkan air dalam jumlah berlebihan, namun harus dimaknai bahwa kondisi tanah di sekeliling media tanam haruslah selalu berada dalam keadaan lembab (bukan becek, apalagi tergenang), untuk memastikan bahwa pasokan air selalu tersedia saat dibutuhkan oleh tanaman untuk proses persarian, pembesaran dan pemasakan buah. Ketersediaan kalium dan fosfat yang baik akan lebih bermakna bagi tanaman jika ketersediaan air juga mencukupi, sehingga proses pembentukan dan pengisian buah akan berlangsung dengan baik pula.

Kerontokan karena faktor biologis :
Pasca persarian bunga, seharusnya diikuti oleh pembentukan bakal buah yang akan berkembang menjadi buah sempurna, namun sering terjadi bakal buah rontok karena terserang beberapa jenis hama maupun penyakit buah. Hama-hama ini umumnya menyerang, dimulai pada saat pembentukan kelopak bunga hingga pembentukan bakal buah pasca persarian bunga. Beberapa hama berwujud ulat yang memakan bakal buah yang baru terbentuk, hama penggerek berupa serangga yang menghisap cairan sel bakal buah yang baru terbentuk, serta beragam jenis kutu penghisap cairan sel yang mengeluarkan sejenis madu yang disukai oleh semut. Simbiosis antara kutu dengan semut ini menimbulkan gejala lapisan hitam (embun jelaga) di sekujur bakal buah dan daun di sekelilingnya. Selain merusak buah muda, tampilan tanaman secara keseluruhan juga menjadi jelek karena lapisan jelaga hitam terlihat mengotori tanaman. Selain itu, jelaga hitam juga menghalangi daun tanaman untuk berfotosintesis dengan normal, dan mengurangi jumlah fotosintat yang terbentuk untuk disimpan sebagai cadangan bahan kering (biomassa) di dalam tubuh tanaman.

Kerontokan karena faktor fisik :
Di musim penghujan dengan curah hujan yang tinggi, yang mengguyur terus-menerus dengan intensitas jangka waktu panjang, menjadi penyebab utama rontoknya bunga atau bakal buah pasca persarian. Dalam kondisi basah, benangsari (alat kelamin jantan pada bunga) lengket satu sama lain karena terikat oleh air, benangsari tidak bisa bertemu dan membuahi kepala putik (alat kelamin betina pada bunga). Sebaliknya di musim kemarau, suhu panas yang ekstrim disertai dengan pengaruh kelembaban yang rendah di siang hari, juga menjadi faktor fisik penyebab kegagalan persarian, karena pada suhu ekstrim, viabilitas atau daya hidup dan vigor benangsari menjadi sangat rendah (singkat) sehingga sulit bagi benangsari untuk tetap viabel dan membuahi kepala putik. Akibat kedua penyebab utama ini, bunga akhirnya layu dan gagal membentuk bakal buah karena proses persarian bunga tidak berlangsung secara normal.






Selain faktor-faktor tersebut di atas, pada tanaman-tanaman tertentu, terdapat selisih waktu yang cukup nyata antara pemasakan benang sari (alat kelamin jantan) dan kepala putik (alat kelamin betina), artinya, benang sari masak lebih awal atau bahkan masak lebih lambat dari masaknya kepala putik. Perbedaan waktu pemasakan inilah yang menjadi penyebab kegagalan persarian pada tanaman karena benang sari tidak dapat membuahi kepala putik. Akibatnya, bunga langsung layu beberapa waktu setelah bunga mekar. Pemberian beberapa senyawa kimia, misalnya gibberelic acid (GA3), dapat merangsang terjadinya pemasakan benangsari yang serempak dengan pemasakan kepala putik atau sebaliknya, yang bertujuan untuk meningkatkan persentase keberhasilan persarian/pembuahan dan pada akhirnya akan meningkatkan pula persentase bunga menjadi bakal buah. Aplikasi GA3 konsentrasi sangat rendah (misalnya, kurang dari 200 ppm/bpj : bagian per juta) dapat dilakukan sebelum atau pada saat masa pembungaan berlangsung, diaplikasikan dengan cara penyemprotan bakal bunga maupun dengan cara pengocoran ke akar tanaman, akan sangat tergantung kepada jenis tanaman yang diperlakukan.

Pada beberapa tanaman, kegagalan persarian bunga dan tentu saja tidak akan diikuti oleh pembentukan bakal buah juga bisa terjadi karena ketidak hadiran serangga penyerbuk (entomogami), sehingga relatif sulit bagi benang sari bunga untuk menyerbuki kepala putik. Peranan angin sebagai salah satu penyebab terjadinya persarian bunga (anemogami) juga minimal, sehingga perlu dilakukan penyerbukan buatan dengan bantuan tenaga manusia, contoh pada tanaman panili, beberapa varietas salak, serta varitas buah naga. Benangsari dari bunga yang mekar diambil menggunakan kuas dan benangsari yang terkumpul kemudian dikuaskan ke kepala putik saat kepala putik siap untuk dibuahi, sementara pada salak diambil bunga jantan yang matang dan dilekatkan sambil dioles-oleskan ke bunga betina agar terjadi persarian atau perkawinan. Dengan proses artifisial ini diharapkan terjadi persarian bunga dan dari persarian tersebut tentu saja diharapkan muncul bakal buah yang akan berkembang menjadi buah sempurna. Tanpa persarian buatan, bunga akan mekar lalu kemudian layu dan rontok begitu saja.

Rabu, 05 Oktober 2011

Penggantian Media Tanam, Repotting, dan Pruning Akar Tabulampot



Salah satu kendala yang biasanya dihadapi oleh penghobi tanaman adalah pertumbuhan tanaman buah dalam pot yang terhenti dan cenderung stagnan. Salah satu penyebab stagnasi pertumbuhan tanaman adalah karena media tanam yang telah memadat dan mengeras dalam pot, yang mungkin terjadi karena beberapa sebab :

1. Periode tanam yang panjang dan menahun,
2. Pertumbuhan akar yang telah memenuhi seluruh bidang pot,
3. Keterbatasan asupan nutrisi bagi tanaman, baik jenis, jumlah dan waktu pemberiannya,
4. Penggunaan media tanam yang keliru, baik jenis maupun komposisinya
5. Kemampuan tanaman yang menurun untuk tumbuh dan berkembang secara normal

Penggantian media tanam tabulampot sebenarnya bukanlah hal mutlak yang harus dilakukan. Meskipun media tanam tabulampot tidak pernah diganti, namun jika pemberian nutrisi organik dan anorganik berlangsung secara teratur dan dalam jumlah yang cukup, tanaman akan tetap tumbuh dengan baik, untuk menyelesaikan semua siklus hidupnya serta berproduksi dengan baik pula. Meskipun demikian, sebagian penghobi beranggapan bahwa penggantian media tanam tabulampot secara periodik adalah suatu keharusan untuk memberikan “ruangan” baru yang lebih ideal bagi pertumbuhan akar tanaman di bagian bawah dan pertumbuhan akar yang sehat akan tercermin pada pertumbuhan tanaman yang sehat secara keseluruhan di bagian atas.

Penggantian media tanam umumnya dilakukan dengan mengikuti dua cara :

1. Penggantian media tanam sekaligus penggantian ukuran pot yang lebih besar. Prinsipnya sederhana, hanya memindahkan tanaman secara keseluruhan ke dalam pot yang berukuran lebih besar, misalnya tanaman mangga dalam pot berukuran diameter 30 cm dipindah ke dalam pot berukuran 40, 50, atau 60 cm, tanpa melakukan pemotongan akar. Hanya ujung-ujung akar saja yang dipotong dan dibersihkan agar kelihatan lebih rapi. Setelah tanaman dikeluarkan dan dibersihkan, siapkan pot baru dengan ukuran lebih besar. Tutup lubang pot yang baru dengan menggunakan pecahan genteng, keramik, atau kaca, kemudian berikan sekam setinggi minimal 3 cm sebagai lapisan terbawah yang sekaligus berfungsi sebagai penyaring. Masukkan media tanam secukupnya, sebarkan merata dan tekan-tekan dengan tangan agar memadat. Masukkan tanaman tepat di tengah pot dan tambahkan media tanam baru di sekeliling akar tanaman, tekan dan padatkan lagi dengan tangan. Tinggi media tanam baru sebaiknya maksimum 5 cm sebelum bibir pot. Siram dengan air secukupnya untuk membuat media tanam baru menjadi lembab dan tidak perlu sampai air menetes dari lubang di bagian bawah pot.






contoh ilustrasi foto untuk tanaman yang berbeda






2. Penggantian media tanam tanpa diikuti dengan penggantian pot, yang berarti harus dilakukan pengurangan massa akar dari volume akar sebelumnya agar diperoleh ruangan baru untuk mengganti media tanam yang juga baru. Keringkan media tanam selama 1-2 hari dengan penjemuran agar mudah dikeluarkan dari pot. Siapkan gergaji yang tajam dan potong akar tegak lurus, maksimum 10 cm dari batang (jika diameter pot 30 cm) dan maksimum 15 cm dari batang (jika diameter pot 40 cm). Potong massa akar di setiap sisi sehingga hasil akhirnya akan berbentuk bujur sangkar. Jika dipandang perlu, potong juga akar bagian bawah, dengan arah mendatar, minimum setinggi 5 cm, dengan mata gergaji diarahkan ke samping, sejajar permukaan tanah/lantai. Siapkan pot yang telah digunakan sebelumnya, tutup lubang pot menggunakan pecahan genteng, keramik, atau kaca, kemudian berikan sekam setinggi minimal 2 cm sebagai lapisan terbawah yang sekaligus berfungsi sebagai penyaring air siraman. Masukkan media tanam secukupnya, sebarkan merata dan tekan-tekan dengan tangan agar memadat. Masukkan tanaman tepat di tengah pot dan tambahkan media tanam baru di sekeliling akar tanaman yang telah dipotong, tekan dan padatkan lagi dengan tangan. Tinggi media tanam baru sebaiknya maksimum 5 cm sebelum bibir pot. Siram dengan air secukupnya untuk membuat media tanam baru menjadi lembab dan tidak perlu sampai air menetes dari lubang di bagian bawah pot. Berbeda dengan metode sebelumnya, pasca pruning akar dan penggantian media tanam baru, pot harus diletakkan di tempat teduh setidaknya selama dua minggu untuk memberikan kesempatan pemulihan pasca pemotongan akar, setelahnya baru dapat dilakukan penjemuran sebagai mana bisanya tabulampot diperlakukan. Selama proses pemulihan berlangsung, hindari pemberian air siraman yang berlebihan, secukupnya saja untuk menjaga agar media tanam tetap lembab.

Anjuran untuk pembuatan media tanam baru yang diberikan saat repotting adalah sebagai berikut :

1. Jika tanah yang digunakan tergolong tanah berat dengan kandungan fraksi lempung yang tinggi sehingga bersifat sangat liat, maka anjuran komposisi media tanamnya adalah 1 bagian tanah dicampur dengan 1 bagian pupuk kandang (sapi/kambing/kerbau/kelinci) dan 3 bagian sekam segar atau sekam bakar atau kombinasi sekam segar dan sekam bakar. Jangan sekali-kali menggunakan abu sekam untuk campuran media tanam karena dalam kondisi jenuh air, kombinasi tanah berat dengan abu sekam akan menghasilkan efek melumpur (seperti lumpur) yang justru mengganggu drainase (pengatusan) air dan aerasi (pengudaraan) dalam media tanam. tanah jenis ini tergolong tanah yang miskin pori, baik pori makro maupun pori mikro, dan karena kandungan fraksi lempungnya yang tinggi, maka kemampuan ikat airnya sangat tinggi, dengan kata lain, tanah mampu menyimpan air dengan sangat baik dengan drainase (pengatusan) yang buruk. Dalam kondisi seperti ini, pertumbuhan akar akan terhambat akibat adanya penggenangan air dalam tanah Penambahan pupuk organik bertujuan untuk memperbaiki struktur tanah agar tanah menjadi lebih remah (crumb) dan akar bisa tumbuh dengan leluasa, sementara penambahan sekam padi bertujuan untuk memperbaiki porositas tanah, menambah jumlah pori makro untuk meneruskan kelebihan air dalam tanah (fungsi pengatusan air) serta menambah jumlah pori mikro untuk menyimpan oksigen (fungsi aerasi atau fungsi pernafasan bagi akar) 

2. Tanah-tanah sedang dengan komposisi fraksi lempung, debu, dan pasir yang seimbang, umumnya relatif ideal dijadikan media tanam tabulampot, namun tetap perlu dimodifikasi agar menjadi lebih ideal untuk digunakan sebagai media tanam dalam jumlah yang terbatas dalam pot agar ideal untuk pertumbuhan akar di bagian bawah serta manifestasi pertumbuhan tanaman yang sehat di bagian atas. Campurkan merata 1 bagian tanah sedang , dengan 0,5 hingga 1 bagian pupuk kandang, dan 1 atau 2 bagian sekam, disesuaikan dengan kebutuhan tanaman yang berbeda antar tanaman yang satu dengan tanaman lainnya. 

3. Tanah dengan fraksi pasir yang dominan, digolongkan sebagai tanah ringan karena mudah diolah, baik dalam keadaan basah apalagi dalam keadaan kering. Tanah jenis ini umumnya terdapat di daerah di sekitar gunung berapi yang masih aktif, biasanya miskin akan kandungan bahan organik, strukturnya sangat remah cenderung rapuh, komposisi pori makro yang sangat tinggi dibanding jumlah pori mikronya, sangat mudah meneruskan kelebihan air, dan miskin kandungan unsur hara nitrogen. Karenanya, jika dibuat sebagai media tanam tabulampot, tanah jenis ini harus diperbaiki sifat-sifat fisikanya, sifat kimianya dan sifat biologinya dengan mencampurkan 1 bagian tanah dengan 2 bagian pupuk kandang, dan 1 bagian sekam, atau tergantung kebutuhan dilihat dari sumber tanahnya, apakah tanah diperoleh dari daerah yang tergolong subur atau kurang subur. Penambahan bahan organik seperti pupuk kandang sekaligus akan memperbaiki sifat fisika tanah (memperbaiki struktur tanah menjadi lebih remah), sifat kimia (menambah kandungan unsur hara organik makro dan mikro) serta memperbaiki sifat biologinya (meningkatkan jumlah dan jenis mikrobia tanah) 

Ciri utama media tanam yang baik adalah tidak gampang memadat meski telah digunakan dalam kurun waktu cukup lama, dan media seperti ini hanya dapat diperoleh dengan cara memodifikasi media tanam dengan bahan-bahan yang tersedia di sekitar kita dan mudah untuk mendapatkannya. Jika ragu dalam membuat media tanam, khususnya kualitas fisiknya, lakukan tips berikut : ambil segenggam media tanam yang telah dibuat dan dalam keadaan lembab (sedikit basah), lalu kepal dengan kuat dalam genggaman tangan. Jika saat genggaman tangan dibuka dan gumpalan media tanam pecah (Jawa : ambyar), itu berarti komposisi media tanam telah ideal secara fisik. Namun jika saat genggaman tangan dibuka dan media tanam berada dalam kondisi menggumpal, berarti diperlukan penambahan sekam segar atau sekam basah dalam jumlah secukupnya agar komposisi ideal media tanam dapat terbentuk sebagaimana telah dicontohkan sebelumnya.   

Penggunaan media tanam tabulampot dengan komposisi yang ideal akan sangat menunjang pertumbuhan akar menjadi lebih optimal, akar dapat tumbuh dengan leluasa karena mendapatkan suplai oksigen dan air dalam jumlah memadai, dan dalam kondisi pertumbuhan optimal tersebut, akar dapat menjalankan fungsinya untuk menyerap air dan hara-hara yang diperlukan dari dalam media tanam untuk disinergikan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman.






Pasca proses repotting dan pemotongan akar, sedapat mungkin hindari penggunaan semua jenis pupuk anorganik. Penggunaan air rendaman pupuk kandang sebagai air siraman sangat dianjurkan selama proses pemulihan berlangsung karena selain berfungsi untuk memasok air, juga bermanfaat untuk memberikan asupan hara organik ke tanaman. Untuk mempercepat pemulihan dan pertumbuhan akar pasca repotting, siram tabulampot dengan larutan B1 Liquinox dengan konsentrasi 0,02% (2 cc per liter air) yang diberikan sebanyak 1 liter larutan untuk tanaman dalam pot berdiameter 30 cm, atau 2 liter larutan untuk tanaman dalam pot berdiameter 40-50 cm, seminggu sekali. Pupuk anorganik baru diberikan ke tanaman sebulan pasca perlakuan di mana akar-akar baru telah tumbuh dengan baik dan telah mampu menyesuaikan diri dalam kondisi media tanam yang baru, baik dalam pot yang lebih besar maupun dalam pot lama yang ukurannya tetap.

Senin, 15 Agustus 2011

Pemangkasan Tanaman Buah





Saya sering mendapat banyak pertanyaan, mengapa tanaman buah harus dipangkas ? Apa manfaat pemangkasan bagi tanaman ? Apa peran pemangkasan bagi produktivitas tanaman ? Dan masih banyak pertanyaan lain seputar pemangkasan tanaman.

Ada beberapa latar belakang yang mendasari mengapa tanaman harus dipangkas, pertama tanaman cenderung akan tumbuh terus, baik tumbuh ke atas maupun tumbuh ke samping. Pertumbuhan yang tidak diarahkan pada beberapa jenis tanaman buah, akan menghasilkan tajuk tanaman yang umumnya tumbuh memanjang ke arah atas (Jawa : nglancir), dengan batang atau cabang tunggal. Kuatnya dominasi apikal (tunas ujung) di bagian ujung tanaman, memacu tanaman untuk terus tumbuh meninggi ke arah atas, dan salah satu cara untuk mematahkan dominasi apikal tersebut adalah dengan cara pemangkasan, yang akan merangsang keluarnya pertumbuhan tunas-tunas samping atau tunas lateral. Dengan demikian, bentuk tanaman sebagai manifestasi pertumbuhan tanaman menjadi lebih ideal dan seimbang, baik pertumbuhan ke arah atas maupun ke arah samping. Kesehatan tanaman secara keseluruhan juga sangat dipengaruhi oleh bentuk tanamannya. Banyak dahan dan ranting yang tumbuh tidak teratur dan bersilangan di bagian tengah tanaman dengan daun-daun yang umumnya tidak terkena sinar matahari secara langsung. Daun-daun yang tidak terkena sinar matahari secara langsung, lebih bersifat parasit bagi tanaman secara keseluruhan karena tidak melakukan proses fotosintesis namun tetap mendapatkan fotosintat (hasil fotosintesis) dari daun-daun di bagian terluar yang terkena sinar matahari langsung. Itu sebabnya, banyak tanaman yang secara keseluruhan tumbuh dengan lebat, daunnya rimbun dengan warna daun yang hijau pekat, namun teramat sangat jarang memunculkan bunga/buah. Jika muncul bunga/buah, maka bunga dan buah yang muncul jumlahnya terbatas atau sedikit sekali. Fotosintat yang terbentuk hanya dialokasikan untuk pertumbuhan tanaman, khususnya ke bagian tanaman yang bersifat parasit tersebut, dan pada akhirnya hanya sangat sedikit jumlah fotosintat yang akhirnya dialokasikan oleh tanaman untuk memunculkan bunga dan buah. Tanaman yang dipangkas teratur akan memberikan lingkungan mikro yang baik bagi pertumbuhan tanaman itu sendiri, di mana sinar matahari sebagai sumber energy utama dapat menembus semua bagian tanaman, memberikan iklim mikro yang baik, mengurangi kelembaban yang berlebihan, juga dapat meminimalkan perkembangan jamur dan organism pengganggu tanaman (OPT) lainnya. Dengan demikian pertumbuhan tanaman menjadi lebih optimal untuk memberikan hasil yang optimal pula.


Pangkas Bentuk :
adalah pemangkasan yang bertujuan untuk membentuk tajuk tanaman seawal mungkin, pada umur tanaman yang masih muda. Pada beberapa jenis tanaman tertentu (mangga misalnya), pangkas bentuk dilakukan dengan mengikuti pola 1-3-9 yang berarti 1 batang utama yang dipangkas akan menghasilkan beberapa cabang primer, dan dari beberapa cabang primer tersebut dipilih 3 cabang yang pertumbuhannya paling seragam dan seimbang dengan arah pertumbuhan yang proporsional (misalnya membentuk sudut 120 derajat bersilangan). Dari 3 cabang primer yang dipelihara ini, masing-masing cabang akan dipangkas lagi untuk menghasilkan 3 cabang sekunder dengan pertumbuhan terbaik, seimbang, dan proporsional. Dengan demikian, pasca pemangkasan bentuk sejak dini, pada akhirnya akan diperoleh tanaman dengan pola percabangan 1-3-9. Dengan pola percabangan seperti ini, akan dihasilakan tanaman dengan tajuk yang rimbun dan membulat, dengan ketinggian yang dapat diatur. Pada kasus tertentu, jika hanya terdapat 2 cabang primer pada batang utama, maka 2 cabang primer ini pun masih dapat dibentuk dengan mengikuti pola 1-2-6, sebagaimana pola 1-3-9. Pola 1-2-4 pun masih memberikan bentuk percabangan ideal dengan bentuk tajuk yang juga membulat dan rimbun. Pada pemangkasan bentuk seperti ini, semua dahan dan ranting yang bersilangan di dalam pola 1-3-6 atau 1-2-6 harus dibuang habis, dan hanya menyisakan cabang-cabang tersier di ujung tanaman.







Pangkas Produksi :
yaitu pemangkasan yang bertujuan untuk merangsang munculnya tunas-tunas produktif, khususnya tunas-tunas yang berada di tajuk bagian terluar dari tanaman. Semakin banyak tunas produktif di ujung ranting, maka kemungkinan munculnya bunga dan buah juga akan semakin banyak, artinya jumlah bunga/buah berbanding lurus dengan jumlah ujung ranting produktif. Pemangkasan produksi juga dilakukan pada semua dahan/ranting di bagian tengah tanaman yang tidak produktif dan tumbuh tidak beraturan, termasuk memangkas habis semua tunas air yang tumbuh lurus, tegak lurus di cabang primer maupun cabang sekunder. Coba perhatikan tunas-tunas air yang tumbuh di cabang primer/sekunder tanaman durian, jambu air, atau durian. Tunas air ini bersifat parasit dan tumbuh sangat cepat, melebihi kecepatan pertumbuhan tunas-tunas lainnya, dengan mengambil fotosintat hasil fotosintesis sebagai energi pertumbuhannya. Selain itu tunas air juga sangat jarang memunculkan bunga meski tanaman telah memasuki siklus/periode berbunga. Tunas-tunas air ini sebenarnya dapat dimanfaatkan sebagai entres untuk bahan perbanyakan tanaman, diambil sebagai entres yang disambungkan ke batang bawah dengan metode sambung susuan, sambung pucuk (top grafting), maupun sambung sisip. Hasilnya, bibit baru dengan sifat genetic yang sama persis dengan sifat genetic tanaman induk, tempat tunas air tersebut diperoleh.

Pangkas Pemeliharaan :
lebih ditujukan untuk memeliharan kesehatan tanaman secara keseluruhan dengan melakukan pemangkasan bersamaan dengan pemberian pupuk, dan umumnya harus dilakukan pasca tanaman menyelesaikan periode berbuah, saat di mana energi tanaman terkuras habis untuk membesarkan buah, dimulai saat pentil buah terbentuk hingga buah masak fisiologis. Pemangkasan dilakukan dengan memangkas habis semua ujung-ujung ranting tempat keluarnya bunga/buah (contoh mudah adalah pada tanaman mangga, rambutan, dan klengkeng). Pemangkasan ujung-ujung ranting akan merangsang keluarnya tunas-tunas baru yang jumlahnnya akan lebih banyak dari jumlah tunas sebagai ujung ranting. Selain itu akan memudahkan pemeliharaan dengan mempertahankan tinggi tanaman yang tetap pendek, tidak tinggi menjulang atau tumbuh terlalu melebar ke arah samping sehingga menhabiskan banyak tempat untuk menunjang pertumbuhan tanaman secara keseluruhan. Pangkas habis pula semua tunas air yang muncul serta membuang semua ranting kering yang mati. Ranting kering ini biasanya menjadi tempat yang menyenangkan bagi pertumbuhan beberapa jenis hama, khususnya hama penggerek batang.






Gunakan alat pangkas yang tajam dan bersih agar bekas pangkasan terbentuk dengan rapi, tidak meninggalkan luka yang mungkin bisa menjadi sumber infeksi penyakit bagi tanaman. Hindari penggunaan golok/parang untuk memangkas, lebih baik menggunakan gunting pangkas untuk ranting kecil, sementara penggunaan gergaji lebih disarankan untuk memotong cabang/dahan tanaman yang berukuran besar, karena bekas potongan akan menjadi lebih rapi. Olesi semua bekas potongan dengan menggunakan parafin, aspal cair, atau cat untuk menghindari infeksi jaringan tanaman yang terluka akibat pemotongan.

Langkah terakhir yang dilakukan bersamaan dengan pemangkasan, adalah pemupukan dengan jenis atau komposisi pupuk yang berbeda di setiap periode. Pada pemangkasan untuk pembentukan tajuk tanaman, unsur nitrogen dibutuhkan lebih dominan, disertai pemberian unsur fosfat yang lebih sedikit. Pada pemangkasan produksi, pemberian unsur fosfat menjadi lebih dominan dengan tambahan unsur kalium hingga periode pembuahan selesai, sementara pada pemangkasan pemeliharaan, pemberian unsur nitrogen, fosfat, dan kalium dalam jumlah seimbang akan memberikan hasil yang lebih optimal.

Selasa, 19 Juli 2011

Mangga Khiojay Jumbo



Satu lagi mangga jumbo yang muncul dari Thailand dan bibitnya mulai banyak diperjual belikan di Indonesia. Varietas baru ini lumayan cepat menarik perhatian masyarakat pecinta tanaman buah karena ukuran buahnya yang jumbo. Lazimnya, bobot buah mangga berkisar antara 250 gram hingga 600 gram, namun varietas ini justru memamerkan ukuran buah yang tidak lazim, buahnya berbobot minimum 1200 gram dengan ukuran bobot maksimum yang pernah saya panen adalah 2200 gram. Betul-betul jumbo untuk ukuran sebuah mangga konsumsi.




Saya mendapatkan bibit mangga ini dari Bangkok, Thailand pada pertengahan Juli 2007 saat saya mendapat tugas kantor di Thailand. Bibit susuan setinggi 50an cm ini kemudian dibawa pulang ke tanah air, kemudian ditanam di dalam pot plastik berdiameter 30 cm, dengan media tanam campuran antara tanah regosol pasiran, pupuk kandang sapi, dan sekam bakar dengan komposisi 1:2:1. Tidak disangka-sangka, 7 bulan pasca tanam, mangga ini mulai memunculkan bunga untuk pertama kalinya. Sekitar 140 hari kemudian, satu-satunya buah mangga dari bunga pertama ini, matang pohon dengan bobot buah saat itu adalah 1200 gram. Ukuran buah yang jumbo meski ditanam di dalam pot  inilah yang mendorong saya untuk memindahkan dan menanam tanaman mangga setinggi semeter ini ke halaman depan rumah yang hanya berjarak 1 meter saja dari pagar halaman.

Tepat di bulan Juli 2010, di umur 3 tahun, tanaman setinggi 4 meter di halaman depan, memunculkan 5 kuntum bunga sebagai tanda musim berbuah yang kedua, namun 5 kuntum bunga tersebut hanya muncul di sisi bagian utara dari tajuk tanaman, dan bunga sama sekali tidak muncul di sisi yang lain. Bunga kedua ini berhasil menjadi 6 buah sempurna yang dipanen dengan bobot buah terkecil seberat 1300 gram dan terbesar seberat 1900 gram.













Yang sedikit aneh dari tanaman ini adalah bunga berikutnya muncul secara bergantian. Bunga ketiga di bulan September 2010 hanya muncul di sisi selatan tajuk tanaman pasca bunga kedua telah berubah menjadi buah sepanjang 15 cm. Bunga ketiga ini lumayan banyak jumlahnya dibanding jumlah bunga di periode kedua. Rombongan bunga keempat menyusul di awal Februari 2011 dengan jumlah kuntum yang jauh lebih banyak di sisi timur tajuk tanaman. Penulis mencatat, bunga periode kelima muncul di sisi barat tajuk tanaman pada awal Juni 2011, kali ini dengan jumlah kuntum paling banyak. Dalam kurun waktu kurang dari setahun, hingga hari ini (18 Juli 2011), mangga khiojay ini telah berbunga sebanyak 4 kali pasca penanaman pohon di tanah, susul menyusul tanpa henti, berputar dari sisi utara, kemudian timur, diikuti sisi selatan, dan saat ini bunga hanya muncul di sisi barat tajuk tanaman. Karenanya, selama hampir 8 bulan terakhir, saya memanen buah mangga khiojay ini secara terus menerus dengan jeda waktu sebulan, menunggu hingga buah masak pohon.









Karena ukurannya yang jumbo, volume daging buah juga sangat banyak dengan persentase daging buah yang bisa dimakan mencapai lebih dari 90%. Yang unik, daging buah tidak masak serempak dalam buah yang sama, umumnya daging buah bagian pangkal masih mengkal dengan tingkat kematangan 70% saat daging buah di bagian ujung telah masak 100%. Daging buah mengkal terasa manis dengan tekstur daging buah yang renyah dan sangat tebal, sementara daging buah yang masak sempurna terasa sangat manis, tanpa serat sama sekali, juicy dan tentunya dengan ketebalan daging buah yang luar biasa. Dianjurkan untuk memanen mangga ini dalam kondisi masak 70-80% saja agar daging buah dapat dinikmati mulai dari bagian ujung buah (yang masak fisiologis terlebih dahulu) hingga ke bagian pangkal buah (masak fisiologis lebih lambat).

Untuk tanaman yang saat ini berumur lebih dari 5 tahun, saya memberikan pupuk NPK Phonska (15-15-15) sebanyak 2 kg sebelum musim penghujan tiba (pada bulan September) untuk menunjang pertumbuhan vegetatif yang sehat sebelum memasuki periode generatif untuk berbunga, dan menambahkan pupuk lambat urai Pamafert (6-23-10-2-3-1) sebanyak 1 kg pada awal musim kemarau (di awal bulan Mei) untuk menunjang periode pembungaan dan pembuahan yang panjang. Masing-masing pupuk tersebut di letakkan dalam lubang yang dibuat melingkar menggunakan linggis, sejauh 1 meter dari pangkal batang. Pemberian pupuk dengan cara melubangi tanah menggunakan linggis terasa lebih mudah dibandingkan jika harus membuat parit mengelilingi tanaman, mengingat tanamannya hanya ditanam di halaman rumah dan terbentur dengan tembok di bagian utara yang hanya berjarak 1 meter dari pokok tanaman.

Hama utama tanaman ini hanyalah kalelawar dan lalat buah, oleh karena itu, pembungkusan buah sedini mungkin pasca bakal buah terbentuk akan mengurangi tingkat kerusakan buah yang disebabkan oleh kedua jenis hama tersebut. Pembungkusan buah dapat dilakukan dengan menggunakan bahan-bahan yang murah dan tersedia di sekitar kita. Saya biasa membungkus buah mangga khiojay ini menggunakan kertas bekas pembungkus semen atau koran bekas berlapis dua yang di-staples pada sisi-sisi yang terbuka, menyisakan sedikit lubang untuk sirkulasi udara, sementara baik kertas semen maupun kertas koran sangat manjur untuk menyerap kelembaban yang timbul akibat pembungkusan buah, hal ini disebabkan oleh jenis kertas yang bersifat higroskopis, yang menyerap uap air dengan cepat sehingga mampu mengurangi resiko kelembaban yang mungkin bisa merangsang pertumbuhan jamur di kulit buah mangga khiojay. Meski hanya terbuat dari kertas, bahan pembungkus sederhana ini sangat awet membungkus buah mulai saat pembungkusan dilakukan hingga pemanenan buah yang memakan waktu lebih dari 4 bulan.






Ukuran buah yang jumbo bisa menjadi alat pembeda (dari sisi marketing) bagi para pekebun mangga untuk mengebunkan mangga khiojay ini dalam skala luas. Dari kacamata marketing, konsumen akan sangat mudah tertarik jika melihat ada mangga yang dipajang di rak untuk dijual karena ukuran buahnya yang tidak lazim. Konsumen buah di Indonesia sangat mudah tertarik jika melihat ukuran buah yang jumbo, persis sama halnya ketika jambu bangkok masuk dan dikenalkan pertama kali di Indonesia di awal tahun 1980an. Selain ukuran buah, kuantitas dan kualitas daging buah serta  rasa yang memenuhi syarat sebagaimana yang telah dijelaskan di awal, daya simpan mangga ini juga luar biasa, dalam keadaan masak 70%, mangga khiojay tahan disimpan selama sebulan dalam ruang pendingin (refrigerator). Jika ditanam di halaman rumah pun, daya tarik mangga ini luar biasa. Setiap orang yang lewat di depan rumah saya pasti menengok buah mangga yang menggantung dalam ukuran jumbo, dari situ rasa ketertarikan mereka terhadap mangga ini dimulai dan diakhiri dengan menanam mangga khiojay di halaman rumah mereka sendiri, agar mereka bisa juga menikmati saat mangga ini mulai berbuah.

Saat ini saya mengenalkan varietas mangga khiojay ini secara luas dengan membuat dan menyebarkan bibit okulasi mata tempel dengan entres dari pohon induk yang terbukti berkualitas bagus. Permintaan bibit mangga khiojay ini tersebar merata mulai dari Sumatera hingga Papua, bahkan seorang ibu rela datang jauh-jauh dari Pontianak Kalimantan Barat ke kediaman saya di Yogyakarta untuk membeli 10 batang bibit mangga khiojay dan membawanya pulang untuk ditanam di kampung halamannya. Ada pula seorang petani pernah datang dan memborong 60 bibit sekaligus untuk dikebunkan di daerah pantura Jawa Tengah. Umumnya mereka tertarik setelah melihat foto-foto mangga khiojay di blog ini maupun di facebook page : Leira Buah Tropis, lalu mereka kemudian datang sendiri  ke Yogyakarta untuk berkonsultasi langsung maupun konsultasi via telephone (081392226572 atau 0811269356). Selain datang mengambil sendiri ke Yogyakarta, saya juga biasa mengirim bibit ini via cargo (airport to airport) maupun dikirim menggunakan jasa kurir via udara (TIKI, JNE), serta jasa pengiriman via darat lainnya (bis malam, kereta api, dan mobil travel).